Minggu, 29 Juli 2012

kesimpulan dan saran


KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Laju erosi permukaan yang terjadi pada setiap satuan lahan berbeda-beda disebabkan oleh faktor kemiringan lereng, faktor kerapatan tanaman dan pengelolaan lahan yang kurang baik.
2. Perlu adanya perubahan pola jenis tanaman dan tindakan pengolahan lahan yang lebih intensif terutama pada lahan dengan klasifikasi laju erosi berat sampai sangat berat.
3. Kondisi fisik lahan yang berpengaruh terhadap laju erosi permukaan adalah faktor lereng dengan koefisien korelasi (r) = 0,70 untuk penggunaan lahan perladangan.
4. Faktor erodibilitas tanah (K) pada lahan yang lebih rapat tanaman penutupnya pada kemiringan di atas 15% lebih resisten resisten terhadap laju erosi. Artinya semakin besar kandungan bahan organik yang tersedia maka nilai (K) erodibilitas tanah semakin kecil.
5. Satuan lahan yang menjadi prioritas konservasi adalah satuan lahan V3 dengan kelas kemiringan IV dan V dengan bentuk penggunaan tanaman Ladang.

B. Saran.
1. Pada unit lahan yang memerlukan tindakan konservasi tanah, sebaiknya dilaksanakan reboisasi secepatnya agar kerusakan lahan dapat dipulihkan
2. Pada lahan dengan satuan lahan V3 kelas kemiringan IV dan V sebaiknya dilakukan pengelolaan lahan dengan baik berupa teras bangku, croopcontour maupun croopstrip untuk menahan laju air yang vertikal
3. Sebaiknya dilakukan pengukuran bagi lahan yang ditanami oleh tanaman murbei secara monokultur dan campuran untuk memastikan hasil pendugaan laju erosi tersebut.


                                                            KETERANGAN SIMBOL

Keterangan Halaman  22dan 23:
SR       : Sangat Ringan                      
R         : Ringan          
S          : Sedang      
B         : Berat                        
SB       : Sangat Berat
Keterangan Halaman 23:
Arahan konservasi lahan :
T1        : teras bangku kondisi baik
T2        : teras bangku penguat rumput
T3        : penggunaan mulsa/pemupukan
T4        : penanaman rumput dalam strip
T5        : penanaman rumput penutup tanah kerapatan tinggi
T6        : penanaman menurut kontur
T7        : penanaman rumput permanen
T8        : dibiarkan dalam keadaan alami
V1       : dapat digarap/pergiliran tanaman
V2       : jenis tanaman tahunan dipertahankan
V3       : rumput
V4       : agroforestry
V5       : hutan alam/lindung
V6       : reboisasi/penghijauan
Keterangan formula
Ep        : Energi Potensial (kg.m.m/det)
Ek        : Energi kinetik (kg) Im/det)
m         : massa (kg)
g          : percepatan gravitasi (kg)
h          : beda tinggi (m)
v          : m/det


                                                                  DAFTAR PUSTAKA


  1. Arsyad, Sitanala, 1986, Pengawetan Tanah dan Air, Departemen Ilmu Tanah IPB, Bogor.
  2. Bemmelen, Van, 1968, Geologi Indonesia, Jilid 1A; Geologi Umum, Tjepat, Jogjakarta.
  3. Departemen Kehutanan dan Bakosurtanal, 1987, Pemetaan Tingkat Bahaya erosi Sub DAS Citarik Das Citarum, Jakarta
  4. Hadisumarno,S, 1985, Manfaat tehnik penginderaan jauh dan geomorfologi dalam studi lingkungan.
  5. Jamulya, 1983, Pengantar Geografi Tanah, Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
  6. Kartasapoetra,G, 1987, Teknologi Konservasi tanah dan air, edisi ke dua, Rineka Cipta, Jakarta.











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar